Rasullullah Sangat Mencintai Kita
Halo, sobat Bianglala! Ketemu lagi dengan rubrik opini
Bianglala. Kita akan membahas pribadi Nabi Muhammad yang sangat mencintai
umatnya.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus khusus untuk
umat akhir zaman. Pada awal syi’ar beliau, banyak dari kaumnya yang tidak
menghiraukan seruan beliau. Hanya segelintir dari mereka yang mau masuk Islam.
Meski pun demikian, beliau tetap teguh, tak sedikit pun ingin menyerah.
Sesungguhnya beliau sangat mencintai kaumnya. Hal tersebut
dibuktikan dari peristiwa yang datang dari diri Rasulullah. Misalnya saja, saat
hijrah beliau menyuruh pengikutnya untuk berangkat terlebih dahulu, sementara
beliau sendiri berangkat terakhir. Karena beliau ingin memastikan keadaan aman
dari kaum kafir Quraisy.
Dan yang lebih menakjubkan adalah disaat Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan wafat, beliau tidak menyebut anaknya, bukan
menyebut istrinya, atau kerabatnya yang lain, melainkan menyebut ‘ummatii
(umatku)’.
Dan saat ini dikabarkan bahwa beliau tidak ingin masuk surga
kecuali bersama kaumnya. Jadi, saat ini beliau menunggu kita di sana.
Sungguh tidak pantas apabila kita tidak mencintai beliau. Sampai
di sini perjumpaan kita, dan sampai jumpa di edisi berikutnya!
Sejak hari itu, aku
mulai mengerjakan semua pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh ibu. Tetapi,
salah satu dari anggota keluargaku tidak menyetujui keputusanku itu. Namun, aku
tetap melakukannya meskipun dilarang. Karena, menurutku, itu adalah keputusan
yang terbaik untukku.
Berhijab mengubah semuanya
Suatu hari, aku diajak
Ibu jalan-jalan ke taman. Aku tak merasa ibu tak seperti
biasa yang aku kenal, beliau lebih menuruti semua keinginanku.
Tiba-tiba pada sore
hari, aku mendengar kabar dari tetangga bahwa ibuku telah meninggal dunia. Aku
merasa bahwa Tuhan tidak adil. Orang yang aku sayangi malah diambil oleh-Nya.
Namun, aku merasa bingung. Meskipun beliau sudah meninggal, tapi mengapa masih
bisa tersenyum?
Sejak hari itu, aku
mulai mengerjakan semua pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh ibu. Tetapi,
salah satu dari anggota keluargaku tidak menyetujui keputusanku itu. Namun, aku
tetap melakukannya meskipun dilarang. Karena, menurutku, itu adalah keputusan
yang terbaik untukku.
Keesokan harinya, aku
mulai masuk sekolah. Saat aku berjalan di koridor sekolah, dari kejauhan aku
mendengar tawa dan canda sekumpulan gadis yang diselingi dengan gurauan. Aku
tak peduli, seolah-olah aku tak melihatnya. Tiba-tiba, ada seorang gadis
memanggil namaku “Siti, jangan sok alim seperti ustadza yang sudah pasti masuk
syurga. Ayo! Kita jalan-jalan ke mall, membeli gadget terbaru dan memakai
baju-baju bermerk yang menampilkan kecantikan kita.” Mendengar kata itu, aku
berhenti sejenak, seakan-akan pikiranku kembali ke masa lalu saat masih bersama
mereka. Kunikmati hidup tiada batas. Disisi lain, aku sudah berikrar kepada
Sang Pencipta Alam, bahwa aku akan menutup auratku dan menjadi orang yang lebih
baik. Bismillah, kulangkahkan kakiku menuju kelas dan meninggalkan ajakan
kesenangan dari teman-temanku. Dalam hati aku bergumam “Semoga apa yang aku
kerjakan selalu Engkau Ridhoi.”
Tiada hari tanpa
cemooh. Namun, Bapak dan Ibu Guru tetap menyemangatiku untuk selalu berbuat
baik walaupun aku sering dicemooh oleh teman-teman akan perubahanku itu. Aku
terus dan terus berusaha tegar. Lambat laun, teman-teman mulai menerimaku apa
adanya. Dan pada akhirnya, satu per satu mulai kuajak untuk memalai hijab.
Karya : Irma Dwi
Anggraeni
No comments:
Post a Comment